Minggu, 25 Oktober 2026 Indeks RSS Login Redaksi
Indeks Berita
TERKINI:
MSCI Ancam Turunkan Status Bursa Indonesia, Kepercayaan Investor Jadi Taruhan Paris Membara! Demonstrasi Biaya Hidup Berujung Bentrok, Polisi Tembakkan Gas Air Mata Dukung Perjuangan Guru, Kak Na Rangkul Ibunda Guru Kabupaten dan Kota Meuseuraya Festival 2026 Digelar, Pj. Sekda Aceh Hadiri Pembukaan Wagub Aceh Dek Fadh Dampingi Kapolri RI di Pidie, Apresiasi Pengungkapan Lab Sabu Ilegal dan Bantuan Huntap Aceh Hijau Bersama YDSF Lanjutkan Pendampingan Psikososial Santri Dayah As Syafiiyah Aktivis 98 Zukhri Adan: Dugaan Pabrik Sabu di Pidie Harus Diusut Tuntas Tanpa Drama! Wagub Dek Fadh Hadiri Rakornas TPAKD 2026, Dorong Perluasan Akses Keuangan di Aceh Mukarramah Fadhlullah Salurkan Bantuan Ikan untuk Santri di Kabupaten Pidie Geger Pidie! Ruko Diduga Jadi Pabrik Sabu, Polisi Bersenjata Lengkap Berjaga
Internasional

Paris Membara! Demonstrasi Biaya Hidup Berujung Bentrok, Polisi Tembakkan Gas Air Mata

Paris Membara! Demonstrasi Biaya Hidup Berujung Bentrok, Polisi Tembakkan Gas Air Mata
Foto ilustrasi editorial fokussorot.com

FOKUSSOROT.COM | PARIS — Gelombang demonstrasi kembali mengguncang Prancis pada Sabtu (24/10/2026). Ratusan ribu orang turun ke jalan untuk memprotes mahalnya biaya hidup, keterbatasan layanan publik, serta persoalan pendanaan pendidikan. Aksi yang berlangsung di berbagai kota tersebut berakhir dengan bentrokan antara sebagian demonstran dan aparat keamanan.

Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 410.000 orang mengikuti demonstrasi secara nasional. Sementara itu, serikat buruh CGT mengklaim jumlah peserta mencapai sekitar 800.000 orang.

Di Paris, kepolisian memperkirakan sekitar 110.000 demonstran mengikuti aksi. Angka tersebut berbeda dengan estimasi penyelenggara yang mencapai 250.000 orang.


Gas Air Mata Warnai Akhir Demonstrasi

Demonstrasi di ibu kota pada awalnya berlangsung relatif damai. Namun, ketegangan meningkat menjelang pembubaran massa di kawasan Porte de Vincennes.

Menurut laporan media internasional, sebagian demonstran melemparkan benda ke arah aparat. Polisi kemudian menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kerumunan serta mengendalikan situasi.

Bentrokan juga dilaporkan terjadi di sejumlah kota lain, termasuk Marseille, Lyon, Lille, Bordeaux, Toulouse, Montpellier, dan Nantes.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyatakan bahwa aparat menghadapi tingkat kekerasan yang tinggi di sejumlah lokasi. Laporan AFP menyebutkan hampir 1.000 orang ditangkap dalam rangkaian demonstrasi tersebut.

Untuk mengantisipasi kerusuhan, pemerintah sebelumnya telah mengerahkan sekitar 70.000 personel keamanan di seluruh negeri.


Biaya Hidup dan Pendidikan Jadi Sorotan

Aksi massa dipicu oleh berbagai persoalan sosial dan ekonomi, mulai dari kenaikan biaya hidup hingga tuntutan perbaikan fasilitas pendidikan dan penambahan tenaga pengajar.

Gerakan yang awalnya berkaitan dengan tuntutan pelajar tersebut kemudian meluas dengan melibatkan mahasiswa, pekerja, serikat buruh, dan kelompok masyarakat lainnya.

Para demonstran mendesak pemerintah agar memberikan perhatian lebih besar terhadap kesejahteraan masyarakat dan kualitas pelayanan publik.

Kenaikan harga energi, yang turut dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, juga semakin menambah tekanan terhadap daya beli masyarakat.


Macron Menghadapi Tekanan Politik

Gelombang demonstrasi tersebut menjadi tantangan politik bagi Presiden Emmanuel Macron di tengah meningkatnya ketidakpuasan masyarakat.

Pemerintah berupaya menjaga keamanan dengan memperketat pengawasan dan membatasi sejumlah aksi di wilayah tertentu. Namun, kebijakan tersebut juga menuai kritik dari kelompok yang menilai bahwa pembatasan berlebihan dapat mengganggu hak warga untuk menyampaikan pendapat.

Situasi ini memperlihatkan dilema yang dihadapi pemerintah, yakni menjaga ketertiban umum sekaligus memastikan aspirasi masyarakat tetap memperoleh ruang demokratis.

Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam membuka dialog, merespons tuntutan ekonomi, dan mencegah kekerasan susulan.

Bagi Prancis, persoalannya bukan sekadar membubarkan massa, melainkan juga memulihkan kepercayaan publik di tengah tekanan sosial yang semakin besar.

Iklan

Baca Juga